Loading...

Selasa, 29 Mei 2012

Islam Wetu Telu: Dialektika Islam dan Budaya Sasak


ISLAM WETU TELU: DIALEKTIKA ISLAM DAN BUDAYA SASAK
(PENDEKATAN ANTROPOLOGIS)
By: AM. Maqdum Biahmada, Abdul Majid, Hermi Ismawati dan Nurul Imamah Aini

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Antara agama dan budaya sama-sama melekat pada diri seseorang beragama dan di dalamnya sama-sama terdapat keterlibatan akal fikiran mereka. Dari aspek keyakinan maupun aspek ibadah formal, praktik agama akan selalu bersamaan, dan bahkan berinteraksi dengan budaya. Kebudayaan sangat berperan penting di dalam terbentuknya sebuah praktik keagamaan bagi seseorang atau masyarakat. Tidak hanya melahirkan bermacam-macam agama, kebudayaan inilah juga mempunyai andil besar bagi terbentuknya aneka ragam praktik beragama dalam satu payung agama yang sama. Dalam kenyataannya dua atau lebih orang dengan agama yang sama belum tentu mempunyai praktik atau cara pengamalan agama, khususnya ritual, yang sama. Keragaman cara beribadah dalam suatu komunitas agama ini mudah kita dapati dalam setiap masyarakat, dengan terbentuknya berbagai macam kelompok agama[1].
Islam Wetu Telu yang sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang terisolir dan terbelakang dalam kehidupan. Mereka pada umumnya berdomisili di bagian utara dan selatan pulau Lombok. Namun penganut Islam Wetu Telu yang masih dapat bertahan sampai saat ini hanya di bagian utara pulau Lombok, tepatnya di desa Bayan Kabupaten Lombok Barat dan sekaligus menjadi pusat Islam Wetu Telu.[2]
Wetu Telu ini merupakan praktik agama yang unik, yang sebagian masyarakat suku Sasak yang mendiami pulau Lombok dalam menjalankan agama Islam. Ditengarai bahwa praktik unik ini terjadi karena para penyebar Islam pada masa lampau, yang berusaha mengenalkan Islam ke masyarakat Sasak pada waktu itu secara bertahap, meninggalkan pulau Lombok sebelum mengajarkan ajaran Islam dengan lengkap. Saat ini para penganut Wetu Telu sudah sangat berkurang, dan hanya terbatas pada generasi-generasi tua di daerah tertentu, sebagai akibat gencarnya para pendakwah Islam dalam usahanya meluruskan praktik tersebut.[3]

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana Sejarah Islam Wetu Telu?
2.      Bagaimana Filosofi Islam Wetu Telu?
3.      Bagaimana Pengaruh Islam Wetu Telu terhadap Masyarakat Bayan?
4.      Bagaimana Islam Wetu Telu pada Era Sekarang?
5.      Bagaimana Dialektika Islam dan Budaya Sasak?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk megetahui Sejarah Islam Wetu Telu.
  1. Untuk mengetahui Filosofi Islam Wetu Telu.
  2. Untuk mengetahui sejauh mana Pengaruh Islam Wetu Telu terhadap Masyarakat Bayan.
  3. Untuk mengetahui posisi Islam Wetu Telu pada Era Sekarang.
  4. Untuk mengetahui Dialektika Islam dan Budaya Sasak.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Islam Wetu Telu
Diketahui bahwa penduduk Lombok Barat mayoritas beragama Islam kecuali suku Bali yang memeluk agama Hindu dan Budha. Sebagian kecil pada umumnya penduduk pendatang adalah pemeluk agama Katulik dan Kristen. Sebelum masuknya Islam, masyarakat yang mendiami pulau Lombok berturut-turut menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu.
Masuknya agama Islam di Lombok tidak diketahui dengan pasti siapa yang membawa pertama kali. Ada dua versi yang menyebutkan bahwa agama Islam memasuki pulau Lombok dalam dua aliran sebagai berikut:
1)      Dari Makasar lewat Sumbawa kira-kira permulaan abad XVI yang dibawa oleh Sunan Perapen putra dari Sunan Giri. Ajaran ini masuk melalui labuhan Lombok.
2)      Dari pulau Jawa lewat Bayan atas instruksi Sunan Penggiang dari Jawa Tengah kira-kira permulaan abad XVI.
Terlepas dari adanya perbedaan tentang siapa yang membawa agama Islam ke Lombok, yang jelas masuknya Islam melalui dua aliran itu membawa suatu efek yang kurang baik dalam perkembangan selanjutnya. Sacara tidak langsung Islam pecah menjadi dua aliran yaitu Islam Waktu lima dan Islam Wetu Telu. Islam Wetu Telu berpusat di daerah Bayan sampai sekarang.
Asal usul terbentuknya Islam Wetu Telu dibayan sampai saat ini juga masih merupakan misteri, kapan dan siapa yang menamakannya pertama kali. Ada beberapa versi tentang latar belakang munculnya Islam Wetu Telu sebagai berikut. Sebuah versi menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk bersamaan dengan penyebaran Islam di Lombok. Sebelum tuntas mengajarkan Islam, penyebarnya (wali atau muridnya) dengan sebab yang tidak diketahui meninggalkan Lombok, akibatnya masyarakat yang masih menganut agama Hindu dan Animisme tidak sepenunhnya mampu menyerap ajaran Islam. Maka mereka memadukan Animisme, Hindu dan Islam menjadi satu. Perpaduan inilah yang kemudian disebut dengan Islam Wetu Telu. Sesungguhnya penganut Islam Wetu Telu itu sebelah kakinya di Islam dan sebelah lagi Hindu dan Animisme.
Dengan nada yang sedikit berbeda, juga diungkapkan oleh Solichin Salam bahwa dalam menyebarkan Islam, para wali mengajarkan secara bertahap, sewaktu penganut Islam Wetu Telu itu berada pada tahap transisi dari Hindu ke Islam lalu mereka meninggalkan Lombok. Akibatnya tugas mereka belum tuntas dengan sempurna sedangkan para murid-muridnya yang ditinggalkan tidak berani menyempurnakan apalagi merubahnya, sehingga lama kelamaan terjadi penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.
Versi lain menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu muncul karena adanya penghinduan yang dilakukan oleh pendeta bernama Dangkian Nirarka yang dikirim oleh Raja Gelgel dari Bali pada tahun 1530. Dengan cerdik pendeta itu mencoba meramu Islam, Hindu dan kepercayaan lama menjadi singkritisme.
Berbeda dari versi sebelumnnya, Islam Wetu Telu muncul setelah Belanda menguasai Lombok tahun 1890. Belanda mencari taktik untuk mengalahkan orang Sasak penganut Islam ortodok, maka mereka menciptakan istilah Islam Wetu Telu dengan tujuan untuk merusak dan mengarahkan kepada pertentangan terus-menerus. Sementara itu Raden Gedarip mengatakan bahwa istilah waktu dalam Islam Wetu Telu itu salah penggunaan tetapi yang benar adalah Wetu Telu dengan alasan bahwa Wetu berarti kemetuan dari tiga hal yaitu bertelur, tumbuh dan beranak. Dengan tetap terpeliharanya ketiga hal tersebut maka kesuburan dan kemakmuran di dunia ini akan lestari.
Dari beberapa pendapat diatas, yang jelas bahwa Islam Wetu Telu sangat berbau Islam meskipun dalam beberapa acara ritual tampak adanya singkritisme antara agama Islam, Hindu dan ajaran Nenek Moyang. Ketiga hal inilah yang lebih mendekati kebenaran asal-usul Islam Wetu Telu sebagaimana yang diungkapkan oleh Jalaludin Arzaki, Direktur Yayasan Kebudayaan dan Pengembangan pariwisasta Nusa Tenggara Barat. Juga versi yang menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk atau muncul setelah Belanda menguasai Lombok.[4]
Bahasa pengantar yang digunakan para penyebar tersebut adalah bahasa Jawa Kuno. Dalam menyampaikan ajaran Islam, para wali tersebut tidak serta merta menghilangkan kebiasaan lama masyarakat yang masih menganut kepercayaan lamanya. Bahkan terjadi akulturasi antara Islam dengan budaya masyarakat setempat, karena para penyebar tersebut memanfaatkan adat-istiadat setempat untuk mempermudah penyampaian Islam. Kitab-kitab ajaran agama pada masa itu ditulis ulang dalam bahasa Jawa Kuno. Bahkan syahadat bagi para penganut Wetu Telu dilengkapi dengan kalimat dalam bahasa Jawa Kuno. Pada masa itu, yang diwajibkan untuk melakukan peribadatan adalah para pemangku adat atau kiai saja.[5]
Dalam dugaan bahwa praktik tersebut bertahan karena para wali yang menyebarkan Islam pertama kali tersebut, tidak sempat menyelesaikan ajarannya, sehingga masyarakat waktu itu terjebak pada masa peralihan. Para murid yang ditinggalkan tidak memiliki keberanian untuk mengubah praktik pada masa peralihan tersebut ke arah praktik Islam yang lengkap. Hal itulah salah satu penyebab masih dapat ditemukannya penganut Wetu Telu di masa modern ini.
Dalam masyarakat lombok yang awam menyebut kepercayaan ini dengan sebutan "Waktu Telu" sebagai akulturasi dari ajaran islam dan sisa kepercayaan lama yakni animisme, dinamisme, dan kerpercayaan Hindu. Selain itu karena penganut kepercayaan ini tidak menjalankan peribadatan seperti agama Islam pada umumnya (dikenal dengan sebutan "Waktu Lima" karena menjalankan kewajiban salat Lima Waktu). Yang wajib menjalankan ibadah-ibadah tersebut hanyalah orang-orang tertentu seperti kiai atau pemangku adat (Sebutan untuk pewaris adat istiadat nenek moyang). Kegiatan apapun yang berhubungan dengan daur hidup (kematian, kelahiran, penyembelihan hewan, selamatan dll) harus diketahui oleh kiai atau pemangku adat dan mereka harus mendapat bagian dari upacara-upacara tersebut sebagai ucapan terima kasih dari tuan rumah.
Kepercayaan dan pendapat yang menyebar pada sebagian besar dikalangan luar meyakini bahwa Wetu Telu itu adalah ajaran agama dan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat atau komunitas adat Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Pandangan masyarakat luas yang berkembang seperti ini sangat disesalkan oleh semua tokoh adat, tokoh agama dan masyarakat atau komunitas adat Bayan pada khususnya, terlebih secara tertulis telah dipublikasikan melalui sebuah buku yang berjudul Satu Agama Banyak Tuhan, karya Kamarudin Zaelani yang diterbitkan oleh percetakan Pantheon Media Pressindo bulan Maret 2007 lalu, isi yang tertuang yang ada dalam buku tersebut dinilai sangat mendiskriditimasi komunitas adat Bayan karena sumber yang ditemui masih sepihak dan belum memahami apa sebenarnya Wetu Telu tersebut.

B.       Filosofi Islam Wetu Telu
Kepercayaan keagamaan dipusatkan atau didasarkan kepada adanya kekuatan gaib[6]. Oleh karena itu, agama sebagaimana yang biasa dipahami, adalah pandangan dan prinsip hidup yang didasarkan kepada kepercayaan adanya kekuatan gaib yang berpengaruh dalam kehidupan manusia[7]. Dalam kehidupan beragama juga ditemukan sikap mensakralkan sesuatu, baik tempat, buku, orang, benda tertentu, dan lain sebagainya[8]. Kepercayaan kepada kesakralan sesuatu menuntut ia diperlakukan secara khusus. Ada tata cara perlakuan terhadap sesuatu yang disakralkan. Ada upacara keagamaan dalam berhadapan dengan yang sacral. Upacara perlakuan khusus ini tidak dapat dipahami secara ekonomi dan rasional[9]. Kalau supernatural dan sacral adalah aspek keyakinan, ritual adalah aspek perilaku dari ajaran agama. Ketiganya menimbulkan kesan rasa atau penghayatan ruhaniah dalam diri yang memercayai dan mengamalkan ajaran agama[10].agama tidak ada tanpa adanya umat penganut agama tersebut. Komunitas penganut agama terdiri dari beberapa fungsi keagamaan. Ada yang memimpin upacara, ada yang harus berfungsi menyiapkan tempat dan alat upacara, dan sekaligus mereka menjadi peserta upacara[11].
Islam Wetu Telu mempunyai pandangan hidup yang serba Telu (tiga), seolah-olah angka itu merupakan angka sakral. Inilah salah satu yang membedakan antara Islam Wetu Telu dengan Islam ortodok. Al Syahrastani juga menganggap penting al adat (angka).
Rukun Islam yang lima oleh penganut Islam Wetu Telu dipotong menjadi tiga yaitu syahadat, shalat dan puasa pada bulan Ramadhan. Sedangkan rukun ke empat dan lima yaitu haji dan zakat mereka tinggalkan, itupun tidak dilaksanakan dengan sempurna. Dalam hal puasa Ramadhan mereka puasa hanya tiga hari pertama, tiga hari pertengahan dan tiga hari terakhir.
Istilah Wetu Telu mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Komunitas Waktu Lima menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai waktu tiga (tiga:telu) dan mengaitkan makna ini dengan reduksi seluruh ibadah Islam menjadi tiga. Orang Bayan sebagai penganut terbesar Islam Wetu Telu ini, menolak penafsiran semacam itu. Pemangku Adatnya mengatakan bahwa Wetu berasal dari kata “metu” yang berarti “muncul” atau “datang dari”. Sedangkan “telu” artinya “tiga”. Secara simbolis makna ini mengungkapkan bahwa semua makhluk hidup muncul melalui tiga macam sistem reproduksi, yaitu melahirkan (disebut menganak), bertelur (disebut menteluk) dan berkembang biak dari benih (disebut juga mentiuk). Sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan Wetu Telu berasal dari bahasa Jawa yaitu Metu Saking Telu yakni keluar atau bersumber dari tiga hal: Al-Qur’an, Hadis dan Ijma. Artinya, ajaran-ajaran komunitas penganut Islam Wetu Telu bersumber dari ketiga sumber tersebut.[12]
Dalam kehidupan bermasyarakat misalnya, sumber hukumnya dibentuk atas dasar tiga perkara yaitu agama, adat dan pemerintah. Oleh karena itu dalam sistem organisasi kemasyarakatan di Bayan mempunyai tiga lembaga yaitu: Pertama lembaga pembantu adat yang menjadi pimpinan tertinggi desa dan biasanya dijabat secara turun temurun. Kedua pembantu pemangku adat yang bertindak sebagai kepala urusan pemerintahan, yang tugasnya menjembatani kepentingan adat dan pemerintah. Ketiga lembaga penghulu yang dijabat oleh seorang kiai. Walaupun mereka mengenal tiga lembaga, seperti tersebut diatas, namun secara garis besar dibagi menjadi dua, yaitu kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan, dengan dipimpin oleh masing-masing petugas[13].
Menurut Raden Singederia, istilah tiga dalam Islam Wetu Telu tidak ada hubungannya dengan ritualitas keagamaan tetapi pemahaman atas asal usul kejadian manusia. Dia percaya bahwa kelahiran manusia ke atas dunia ini disebabkan oleh adanya tiga sumber, yaitu Tuhan, ayah dan ibu. Dan Wetu Telu sendiri merupakan pengalaman budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Terlepas dari ada atau tidaknya hubungan tiga dalam Islam Wetu Telu dengan upacara agama, tetapi yang jelas penganut Islam Wetu Telu dalam menjalankan upacara selalu bertumpu pada angka tiga atau tiga hal, seperti dalam ibadah, mereka mengenal tiga macam ibadah besar yaitu Loh Langgar, Loh Dewa (Penyembah terhadap Dewa) dan Loh Makam (penyembah terhadap leluhur). Mereka juga hanya melaksanakan tiga macam shalat yaitu shalat Idul Fitri, Shalat Idul Adha dan Shalat Jum’at besar. Jadi makna Telu dalam Islam Wetu Telu mempunyai kaitan dengan asal usul kejadian manusia dan juga erat hubungannya dengan acara ritual keagamaan yang dipercayai dan dilakukan oleh penganut Islam Wetu Telu[14].
Terkait makna Watu Telu memang tidak terlepas dari filosofi masyarakat adat Bayan yang selalu berpegang teguh pada tiga unsur atau keyakinan, yakni hubungan Tuhan dengan Manusia yang melibatkan para Kyai, Hubungan Manusia dengan Manusia yang melibatkan Pranta-pranata dan sesepuh adat, dan yang terakhir adalah Hubungan Manusia dengan Lingkungan yang diperankan oleh para Toaq Lokaq (para orang tua). Ketiga unsur ini memerlukan dan harus diseimbangkan, karena bagaimana pun juga kalau salah satunya tidak nyambung atau seimbang maka tidak mungkin dapat berjalan dengan baik[15].
Haji Amir tokoh adat sekaligus tokoh Agama yang juga mantan Kepala Desa Loloan, Bayan, KLU priode tahun 1968-1998, menuturkan, “Wetu Telu itu adalah filosofi yang diyakini komunitas adat Bayan yang memiliki arti, makna serta penjabaran yang sangat luas dan mendalam tentang kehidupan manusia, Tuhan dan lingkungannya, yang kesemuanya itu tidak dapat terpisahkan satu dengan yang lainnya, dimana folosofi ini juga kental dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islam. Wetu Telu juga menggambarkan filosofi tentang “Wet Tau Telu” (tiga bagian wilayah atau sistim Pemerintahan-red) diantaranya, Adat, Agama dan Pemerintah, ketiga unsur ini jika dilihat berdasarkan fungsinya tidak mungkin dapat terpisahkan dimana tugas dan fungsinya juga tidak mungkin dapat disatukan atau disamakan satu dengan yang lainnya”[16].
Filosofi lain juga meyakini Wetu dan Metu itu yakin adanya Tuhan, Nabi Muhammad Saw, Ibu, Bapak, dan Anak serta menyakini adanya Nabi Adam sebagai manusia pertama yang dilahirkan dan diturunkan kebumi. Kemudian isi bumi atau alam diyakini dilahirkan melalui tiga cara atau tiga unsur, (Metu) yaitu, Tioq (tumbuh), Menteloq (bertelur) dan terakhir melalui proses Beranak. Gambaran lain yang sering diucapakan dalam kehidupan sehari-hari adalah Inaq, Amaq, Allah (Ibu, Bapak dan Tuhan) juga sebagai ungkapan kalau sorga itu berada dibawah telapak kaki ibu, filosofi ini juga masuk dan erat kaitannya dengan ajaran Agama Islama dimana semua ummat Islam harus tunduk dan patuh terhadap ajaran tersebut[17].
Keyakinan lain juga tergambar dari tiga aspek kehidupan yaitu Air, Agin dan Tanah, ketiga unsur ini juga menjadi dasar utama semua mahluk hidup yang ada dimuka bumi dapat tumbuh, hidup serta berkembang biak, apa bila ketiga elemen ini ada dan dilestarikan[18].
Ketiga unsur lain tentang makna serta filosofi Wetu Telu yaitu Adanya tiga unsur yang mengayomi dan menuntun serta membina manusia atau masyarakat, yaitu dari Kyai yang berdasarkan keturunan dan memiliki tugas khusus dibidang agama, Tokoh Adat yang mengatur soal adat dan istiadat, dan yang terakir adalah pemerintah yang juga khusus membidangi sistim pemerintahan[19].

C.      Pengaruh Islam Wetu Telu terhadap Masyarakat Bayan
Dalam kehidupan beragama maupun kehidupan budaya manusia, keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu merupakan potensi fitrah (pembawaan) manusia, bertumbuh dan berkembang secara terpadu bersama-sama dalam proses kehidupan manusia secara nyata di muka bumi, dan secara bersama pula menyusun suatu sistem budaya dan peradaban suatu masyarakat atau bangsa. Namun demikian keduanya memiliki sifat dasar yang berbeda, yaitu bahwa agama memiliki sifat dasar “ketergantungan dan kepasrahan”, sedangkan kehidupan budaya mempunyai sifat dasar “kemandirian dan keaktifan”. Oleh karena itu, dalam setiap tahap/fase pertumbuhan dan perkembangannya menunjukkan adanya gejala, variasi, dan irama yang berbeda antara lingkungan masyarakat/bangsa yang satu dengan lainnya[20].
Islam wetu telu sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok Utara khususnya, diantaranya:[21]
1.      Wet Agama
Seperti yang kita ketahui wet agama yang terdiri dari para penghulu dan kiayi mengatur tentang proses ritual religius dan adat agama yang merupakan faktor utama dalam kehidupan bermasyarakat. Pentingnya wet agama dapat dibuktikan dengan melihat posisi duduk yang terletak di hulu selatan yang dalam masyarakat Sasak disebut  bolot atas, ini mencerminkan wet agama sebagai perantara hubungan manusia dengan penguasa alam, wet agama yang terdiri dari kiayi, penghulu atau toaq lokaq mempunyai peranan dalam berbagai aktivas adat gama.
2.      Wet Adat
Dalam pendistribusian Wet Adat bertugas untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia, serta hubungan manusia dengan alam. Pembuktian hal tersebut dapat ditinjau dari posisi letak duduk yaitu di tempatkan di tengah di sekitar tiang yang di bungkus kain berwarna hitam. Dalam Wet Adat terdapat para pelaksananya antara lain, Mangku Adat, Sesepuh, dan Belian (Dukun), serta Jintaka, masing-masing tokoh tersebut mempunyai tugas yang telah di tentukan.
3.      Wet Pemerintahan (Ngemong Praja)
Karena masyarakat Sasak Lombok Utara dulunya beragama Boda yang pada fase selanjutnya mendapatkan pengaruh dari unsur Hindu dan Islam, maka sistem kekastaan dalam lingkungan penganut Wet Tau Telu merupakan kombinasi dan perpaduan dari beberapa unsur dan pernik peradaban tersebut. Dipahami bahwa setiap masyarakat ada pemimpin dan ada yang dipimpin  (masyarakat). Adapun bentuk dan pola pembagian kepemimpinan dalam pemerintahan sebagai produk sejarah erat kaitannya dengan sistem kekastaan. Pembagian kekastaan dalam masyarakat Sasak Wet Tau Telu terdiri dari empat marga, yaitu : Datu, Raden, Luput dan Perjaka.
Wet Tau Telu merupakan kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun pada masyarakat Lombok Utara yang di kenal dengan “Orang Dayan Gunung”. Pembagian kekuasaan versi Wet Tau Telu sangat tepat apabila diterapkan pada pola pemerintahan di Kabupaten Lombok Utara karena pembagian dan pendistribusian kekuasaan sangat jelas. Di sisi lain model pembagian kekuasaan ini mempunyai akar sejarah, berurat dan berakar dibudaya masyarakat adat Lombok Utara.[22]

D.      Islam Wetu Telu pada Era Sekarang
Agama identik dengan kebenaran. Sebagai kebenaran, agama ketika telah dipercaya oleh seseorang akan senantiasa disebarkan pada orang lain, dengan harapan orang lain punya keyakinan sama dengan dirinya. Ada naluri dari setiap manusia untuk mengkomunikasikan ide-ide kebenaran yang ada pada dirinya melalui komunikasi. Karena setiap manusia telah bertuhan, maka yang terjadi adalah komunikasi timbal balik seputar agama yang diyakini maisng-masing. Dalam dunia beragama, setiap agama yang ada dunia senantiasa ingin mengajakkan agamanya kepada setiap orang yang lain sebanyak-banyaknya. Anjuran untuk melakukan penyebaran agama dari setiap agam semakin memperkuat semangat bagi setiap umat beragama untuk menyiarkan agamanya. Di dalam penyebaran agama, yang terjadi adalah pertukaran, dialog, diskusi, tentang kebenaran masing-masing agama, mengingat bahwa setiap orang telah mempunyai kepercayaannya sendiri terhadap Tuhan[23].
Sesudah para wali jawa, yang melanjutkan  misi dakwah adalah para tuan guru, charisma tuan guru terutama diperoleh sesudah mereka menunaikan ibadah haji di Mekkah dan tinggal di sana  selama dua tuhan atau lebih untuk memperdalam agama islam[24]. Sepulangnya dari itu, tuan guru pun mendirikan pesantren untuk mengajar penduduk di desa asalnya. Tujuan diselenggarakannya pondok pesantren adalah untuk menyebarkan ajaran-ajaran orisinal islam sebagai mana tersurat dalam al-quran dan hadis. Tuan guru berpandangan bahwa ajaran-ajaran murni islam di Lombok bersinar terang di tengah-tengah kepercayaan  sinkretis wetu telu yang sangat menonjol di masa lalu, terutama abad kesembilan belas. Di mata mereka praktek relijius wetu telu tidak memiliki akar islam sama sekali. Tuan guru melalui pondok pesantren mereka ingin melenyapkan anasir non islam yang melekat dalam kepercayaan wetu telu, serta mendidik orang sasak dalam prinsip-prinsip asli praktek-praktek baku islam. Kemunculan institusi pengajaran agama yang teroganisir (pondok pesantren) dengan jaringan sekolah agama (madrasah) yang meluas telah menyerap banyak murid dan pengikut dari segala penjuru. Hal ini, pada gilirannya, semakin meningkatkan pengaruh tuan guru di seluruh Lombok[25].
Pada masa sekarang para tuan guru dan murid-muridnya bekerja sama dengan penguasa setempat. Ini berarti tuan guru berusaha mengkooptasi pejabat pemerintah setempat untuk melaksanakan dakwah. Tuan guru mengakui otonomi dan kekuasaan nyaris absolute dari kepala administrative pemerintah dalam mengontrol kehidupan wilayahnya[26].
Dakwah di masjid bisanya dilakukan melalui pengajian, khutbah formal dan penyelenggaraan salat berjamaah. Madrasah juga menjadi pusat aktifitas dakwah yang menyediakan pendidikan sekunder gratis bagi orang rua yang tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah negeri atau swasta. Kiranya penting menelaah dakwah yang dilancarkan dalam bentuk pengajian, khutbah formal dan salat berjamaah di masjid, karena hal ini akan menambah pengetahuan kita tentang bagaimana beroperasinya lembaga-lembaga itu[27]. Problem lain yang dihadapi para da’i adalah memelihara keikutsertaan jangka panjang partisipan dalam pengajian[28]. Tidak banyak warga masyarakat bayan yang mau mendorong anak-anak mereka untuk mengikut pengajian[29]. Kebanyakan anak-anak wetu telu berhenti mengikuti pengajian ketika mereka menginjak masa remaja[30]. Aktifitas dakwah juga meliputi khutbah mingguan yang diberikan bagi jamaah yang menghadiri salat jumat di masjid[31]. Adakalanya da’i memilih topik yang berkenaan dengan praktek sehari-hari, seperti pentingnya menjaga kebersihan sebelum melakukan salat, atau pentingnya menjaga keutuhan salat lima waktu sehari. Tidak semua orang bayan, terutama pemeluk wetu telu, bisa menerima isu-isu atau nilai yang disampaikan melalui khutbah[32].
Di dalam hidup bermasyarakat, antara agama dan kebudayaan hidup dan berkembang seiring dan sejalan dengan agama. Pola-pola dinamika yang dialami oleh keduanya juga tidak jauh berbeda. Ketika sebuah agama tertentu masuk ke dalam suatu masyarakat, budaya atau adat istiadat yang telah melekat seringkali sulit ditinggalkan. Budaya setempat berfungsi sebagai filter bagi masuknya budaya maupun agam baru dari luar; demikian juga sebaliknya agama yang telah mapan dalam sebuah masyarakat juga berfungsi sebagai filter bagi masuknya agama maupun budaya asing. Pendek kata, antara budaya dan agama keduanya saling menjadi filter bagi budayadan agama asing yang masuk dalam satu komunitas masyarakat[33].
Sia-sia belaka mengharapkan wetu telu secara subtansial mengubah budaya relijius mereka hanya melalui kiai saja. Masalahnya para kiai bukanlah satu-satunya kelompok yang mainkan peran penting dalam komunitas adat. Ada tokoh-tokoh adat lain seperti pemangku gubug, perumbak, toaq local yang sangat berpengaruh dalm pelesatrian budaya relijius wetu telu[34]. Ikatan komunitas dengan adat dan para pemimpin adat menjadi hambatan utama para da’i dalam membuat warga wetu telu mau menerima dakwah mereka. Orang-orang wetu telu yang mau menerima dakwah memberlakukan standar ganda. Mereka lebih patuh kepada adat dan menerima dakwah hanya dalam pengertian sempit termasuk kehadiran mereka yang Cuma sesekali di masjid baru ketika ada hari besar islam dirayakan. Adat masih sangat menonjol dan berpengaruh dalam kehidupan masyarakat wetu telu Bayan. Ritus pokok Islam seperti salat lima waktu, puasa, zakat dan menunaikan ibadah haji lebih merupakan potret para da’i dan pendatang waktu lima ketimbang wetu telu[35].
Hingga kini populasi orang Sasak yang menganut Islam Wetu Telu masih banyak dijumpai. Sebagian besar dari mereka tinggal di Bayan, Lombok Utara. Lainnya tersebar di Mataram, Pujung, Sengkol, Rabitan, Sade, Tetebatu, Sembalun Bumbung, Senaru, Loyok, dan Pasugulan[36].

E.     Dialektika Islam dan Budaya Sasak
Agama sasak atau lebih spesifik lagi Islam sasak merupakan cermin dari pergulatan agama lokal atau tradisional berhadapan dengan agama dunia yang universal dalam hal ini Islam. Seperti yang terjadi di Bayan (Lombok), Islam Wetu Telu (Islam Lokal) yang banyak dipeluk oleh penduduk Sasak asli dianggap sebagai “tata cara keagamaan Islam yang salah (bahkan cenderung syirik)” oleh kalangan Islam Waktu lima, sebuah varian Islam universal yang dibawa oleh orang-orang dari daerah lain di Lombok. Islam waktu lima sejak awal kehadirannya disengaja untuk melakukan misi atau dakwah Islamiyah terhadap kalangan Wete Telu.[37]
Beberapa kalangan melihat fenomena Wetu Telu dalam makna yang sama dengan penganut Islam abangan atau Islam Jawa di Jawa, sebagaimana trikotomi yang diajukan Geertz, dan ditulis oleh Mark Woodward. Namun penyebutan Islam Wetu Telu ini disangkal oleh Raden Gedarip, seorang pemangku adat Karangsalah. Menurutnya, Islam hanya satu, tidak ada polarisasi antara waktu tiga (Wetu Telu) dan Waktu Lima. “Sebenarnya Wetu Telu bukan agama, tetapi adat”, ucapnya.  Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa masyarakat adat Wetu Telu ini mengakui dua kalimah syahadat, “Allah Tuhan kami yang kuasa dan nabi Muhammad sebagai utusan Allah”. Dua kalimat syahadat pun diucapkan oleh penganut Wetu Telu ini, Setelah diucapkan dalam bahasa Arab, kata Gedarip, diteruskan dalam  bahasa Sasak, misalnya: “Asyhadu Ingsun sinuru anak sinu. Anging stoken ngaraning pangeran. Anging Allah pangeran. Ka sebenere lan ingsun anguruhi. Setukhune nabi Muhammad utusan demi Allah. Allahhuma shali Allah sayidina Muhammad”. Artinya: “Kami berjanji (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan kami percaya bahwa nabi Muhammad adalah utusan Allah”. Disebut “berjanji” karena diakui sudah menerima agama Islam.[38]
Kemampuan Islam untuk beradaptasi dengan budaya setempat, memudahkan Islam masuk ke lapisan paling bawah dari masyarakat. Akibatnya, kebudayaan Islam sangat dipengaruhi oleh kebudayaan petani dan kebudayaan pedalaman, sehingga kebudayaan Islam mengalami transformasi bukan saja karena jarak geografis antara Arab dan Indonesia, tetapi juga karena ada jarak-jarak kultural.
Proses komporomi kebudayaan seperti ini tentu membawa resiko yang tidak sedikit, karena dalam keadaan tertentu seringkali mentoleransi penafsiran yang mugkin agak menyimpang dari ajaran Islam yang murni. Kompromi kebudayaan ini pada akhirnya melahirkan, apa yang di pulau Jawa dikenal sebagai sinkretisme atau Islam Abangan. Sementara di pulau Lombok dikenal dengan istilah Islam Wetu Telu.
Proses islamisasi yang berlangsung di Nusantara pada dasarnya berada dalam proses akulturasi. Seperti telah diketahui bahwa Islam disebarkan ke Nusantara sebagai kaedah normatif di samping aspek seni budaya. Sementara itu, masyarakat dan budaya di mana Islam itu disosialisasikan adalah sebuah alam empiris. Dalam konteks ini, sebagai makhluk berakal, manusia pada dasarnya beragama dan dengan akalnya pula mereka paling mengetahui dunianya sendiri. Pada alur logika inilah manusia, melalui perilaku budayanya senantiasa meningkatkan aktualisasi diri. Karena itu, dalam setiap akulturasi budaya, manusia membentuk, memanfaatkan, mengubah hal-hal paling sesuai dengan kebutuhannya.[39]
Dalam kehidupan msyarakat penganut Islam Wetu Telu dimana dalam agamanyapun tidak lepas dari kebudayaan yang terakulturasi dalam agama yang mereka yakini sehingga terdapat pula ritual-ritual seperti halnya dalam ritual-ritual kepercayaan yang ada dalam menganut Islam waktu lima. Adapun bentuk-bentuk dialektika antara Islam dan Budaya dalam Wetu Telu tersebut yaitu:[40]
1.      Adat hidup dan mati: semenejak kelahiran dan kematian terdapat serentetan upacara-upacara. Didalam kehidupan seseorang terdapat upacara-upacara adat sebagai berikut:
a.       Buang au, upacara dilaksanakan menjelang seorang bayi berumur 7 hari kemudian langsung diberi nama. Seperti halnya dalam Waktu Lima yang disebut Aqiqah.
b.      Ngurisan dan Nyunatan, upacara dilaksanakan apabila anak-anak mencapai umur tiga samapai enam tahun. Hal ini juga dilakukan dalam Islam.
c.      Potong Gigi dan Ngawinan, merupakan upacara yang menandai peralihan dari kanak-kanak menjadi dewasa. Dalam upacara ini pemangku atau kyai menghaluskan gigi bagian depan anak laki-laki dan gadis remaja yang berbaring di berugak.[41]
Begitu pula dalam peristiwa kematian banyak sekali macam upacara bahkan terjadi pengorbanan yang luar biasa karena dianggap sebagai penghormatan terakhir pada almarhum. Kegiatan upacaranya meliputi: penyelenggaraan jenazah seperti memandikan, megafankan, menyalatkan dan menguburkan. Setelah keempat upacara tersebut selesai kemudian menyusul kegiatan lainnya, berupa upacara sebagai berikut:
a.       Nelung yaitu hari ketiga dari peristiwa kematian
b.      Mituq yaitu hari ke tujuh dari peristiwa kematian.
c.       Nyanga yaitu hari kesembilan dari peristiwa kematian. Pada hari ini diserahkan sebagian harta benda almarhum kepada pihak petugas atau acara ini lazim disebut istilah nyelawat.
d.      Pelayaran, upacara ini dilaksanakan tiap-tiap minggu atau bulan tepat pada hari kematian sesorang.
e.       Matangpulu, nyatus dan nyiu; masing-masing diadakan pada hari yang ke empat puluh, keseratus dan keseribu.
2.      Adat Agama
Warna Islam juga ditemukan dalam ritual-ritual yang berkaitan dengan hari besar Islam, seperti:[42]  
a.       Rowah Wulan dan Sampet Jum’at
Kedua upacara ini dimaksudkan untuk menyambut tibanya bulan puasa (Ramadlan). Rowah Wulan diselenggarakan pada hari pertama bulan Sya’ban, sedangkan  Sampet Jum’at dilaksanakan pada jum’at terakhir bulan Sya’ban. Tujuannya adalah sebagai upacara pembersihan diri menyambut bulan puasa, saat mereka diminta untuk menahan diri dari perbuatan yang dilarang guna menjaga kesucian bulan puasa.
Upacara-upacara ini tergolong unik, karena masyarakat Wetu Telu sendiri tidak melakukan puasa. Yang melaksanakan hanyalah para Kiai, itupun tidak sama dengan tata cara berpuasa yang dilakukan oleh penganut Waktu Lima.
b.      Maleman Qunut dan Maleman Likuran
Maleman Qunut merupakan peringatan yang menandai keberhasilan melewati separuh bulan puasa. Upacara ini dilaksanakan pada malam keenam belas dari bulan puasa. Bila dibandingkan dengan Waktu Lima, pada malam keenam belas dalam pelaksanaan rakaat terakhir shalat witir setelah shalat tarawih disisipkan qunut. Barangkali atas dasar ini kemudian Wetu Telu menyelenggarakan Maleman Qunut.
Sedangkan Maleman Likuran  merupakan upacara yang dilaksanakan pada malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29 bulan puasa. Perayaan tersebut dinamakan maleman selikur, maleman telu likur, maleman selae, maleman pitu likur, dan maleman siwak likur. Pada malam ini masyarakat Wetu Telu secara bergiliran menghidangkan makanan untuk para kyai yang melaksanakan shalat tarawih di masjid kuno. Adapun pada malam ke-22, 24, 26, dan 28 dirayakan dengan makan bersama oleh para kyai. Perayaan ini disebut sedekah maleman likuran.
c.       Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi
Maleman Pitrah identik dengan saat pembayaran zakat fitrah di kalangan Waktu Lima. Hanya saja dalam tradisi Wetu Telu terdapat sejumlah perbedaan dalam tata cara pelaksanaannya dengan Waktu Lima. Dalam tradisi Wetu Telu, maleman Pitrah merupakan saat dimana masing-masing anggota masyarakat mengumpulkan pitrah kepada para kyai yang melaksanakan puasa dan hanya dibagikan di antara para kyai saja. Bentuk pitrahnya pun berbeda. Dalam ajaran Waktu Lima, yang juga mentradisi di kalangan Islam pada umumnya, zakat fitrah hanya berupa bahan makanan dengan jumlah tertentu dan hanya dikeluarkan untuk orang-orang yang hidup. Dalam tradisi Wetu Telu, Pitrahnya berupa makanan, hasil pertanian, maupun uang, termasuk uang kuno, dan berlaku baik untuk yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Untuk yang masih hidup Pitrah itu disebut Pitrah Urip, sedangkan untuk yang sudah meninggal disebut Pitrah Pati.
Sedangkan Lebaran Tinggi identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Fitri bagi penganut Waktu Lima. Bedanya, dalam upacara Lebaran Tinggi diadakan acara makan bersama antara pemuka agama dan pemuka adat, serta masyarakat penganut Wetu Telu.
d.      Lebaran Topat
Lebaran Topat diadakan seminggu setelah upacara Lebaran Tinggi. Dalam perayaan ini, seluruh Kyai dipimpin Penghulu melakukan Sembahyang Qulhu Sataq atau shalat empat rakaat yang menandai pembacaan surat Al-Ikhlas masing-masing seratus kali. Lebaran Topat berakhir dengan makan bersama di antara para kyai. Dalam perayaan ini, ketupat menjadi santapan ritual utama.
e.       Lebaran Pendek
Lebaran Pendek identik dengan pelaksanaan hari raya Idul Adha di kalangan Waktu Lima. Pelaksanaannya dilakukan dua bulan setelah lebaran topat. Dimulai dengan shalat berjamaah di antara para Kyai disusul acara makan bersama dan setelah itu dilanjutkan dengan pemotongan kambing berwarna hitam.

f.       Selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang
Upacara Selametan Bubur puteq dan bubur abang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram dan 8 Safar menurut penanggalan Wetu Telu. Upacara ini untuk memperingati munculnya umat manusia dan beranak pinaknya melalui ikatan perkawinan. Bubur puteq [bubur putih] dan bubur abang (bubur merah) merupakan hidangan ritual utama yang dikonsumsi dalam upacara ini. Bubur putih melambangkan air mani yang merepresentasikan laki-laki, sedangkan bubur merah melambangkan darah haid yang merepresentasikan perempuan.
g.      Maulud
Dari penyebutannya, terkesan bahwa upacara ini terkait dengan upacara peringatan kelahiran Nabi Muhammad Saw, sebagaimana dilaksanakan oleh Waktu Lima. Kendati waktu pelaksanaannya sama, yakni pada bulan Rabi’ul Awal, Wetu Telu merayakannya untuk memperingati perkawinan Adam dan Hawa. Seperti upacara-upacara lainnya, berdo’a dan makan bersama ditemukan dalam upacara ini.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Islam Wetu Telu merupakan suatu kepercayaan masyarakat lombok. Asal usul terbentuknya Islam Wetu Telu di bayan sampai saat ini juga masih merupakan misteri, kapan dan siapa yang menamakannya pertama kali. Ada beberapa versi tentang latar belakang munculnya Islam Wetu Telu. Sebuah versi menyebutkan bahwa Islam Wetu Telu terbentuk bersamaan dengan penyebaran Islam di Lombok. Sebelum tuntas mengajarkan Islam, penyebarnya (wali atau muridnya) dengan sebab yang tidak diketahui meninggalkan Lombok, akibatnya masyarakat yang masih menganut agama Hindu dan Animisme tidak sepenunhnya mampu menyerap ajaran Islam. Maka mereka memadukan Animisme, Hindu dan Islam menjadi satu. Perpaduan inilah yang kemudian disebut dengan Islam Wetu Telu. Sesungguhnya penganut Islam Wetu Telu itu sebelah kakinya di Islam dan sebelah lagi Hindu dan Animisme.
Penyebutan istilah Wetu Telu mempunyai perspektif yang berbeda-beda. Komunitas Waktu Lima menyatakan bahwa Wetu Telu sebagai waktu tiga (tiga:telu) dan mengaitkan makna ini dengan reduksi seluruh ibadah Islam menjadi tiga. Orang Bayan sebagai penganut terbesar Islam Wetu Telu ini, menyatakan bahwa wetu telu bermakna semua makhluk hidup muncul melalui tiga macam sistem reproduksi, yaitu melahirkan (disebut menganak), bertelur (disebut menteluk) dan berkembang biak dari benih (disebut juga mentiuk). Sumber lain menyebutkan bahwa ungkapan Wetu Telu berasal dari bahasa Jawa yaitu Metu Saking Telu yakni keluar atau bersumber dari tiga hal: Al-Qur’an, Hadis dan Ijma. Artinya, ajaran-ajaran komunitas penganut Islam Wetu Telu bersumber dari ketiga sumber tersebut.
Islam wetu telu sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Sasak Lombok Utara khususnya, diantaranya beberapa ritual yang ada seperti: Wet Agama, Wet Adat, Wet Pemerintahan. Sehingga Wet Telu merupakan kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun pada masyarakat Lombok Utara.
Di era ini, Islam Wetu Telu masih tetap bertahan di daerah Lombok bagian Utara khususnya daerah Bayan. Meskipun sudah banyak sekali para da’i yang menyebarkan dakwah Islam di sana dari turun temurun, akan tetapi ada tokoh-tokoh adat lain seperti pemangku gubug, perumbak, toaq local yang sangat berpengaruh dalm pelesatrian budaya relijius wetu telu.
Dialektika Islam dan Budaya Sasak meliputi beberapa hal seperti: Adat hidup dan mati terdapat upacara-upacara adat sebagai berikut: Buang au (Aqiqah dalam Islam Waktu Lima), Ngurisan dan Nyunatan, Potong Gigi dan Ngawinan. Peristiwa kematian penyelenggaraan jenazah seperti memandikan, megafankan, menyalatkan dan menguburkan. Dilanjutkan dengan upacara Nelung, Mituq, Nyanga, Pelayaran, Matangpulu, nyatus dan nyiu (diadakan pada hari yang ke empat puluh, keseratus dan keseribu). Adat Agama (Rowah Wulan dan Sampet Jum’at, Maleman Qunut dan Maleman Likuran, Maleman Pitrah dan Lebaran Tinggi, Lebaran Topat, Lebaran Pendek, Selametan Bubur Puteq dan Bubur Abang, Maulud)








DAFTAR PUSTAKA

Agus, Bustanudin. 2007. Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Budiwanti, Erni. 2000. Islam Sasak. Wetu telu versus waktu lima. Yogyakarta: LKiS
Edelwish. Islam Wetu Telu. http://agyuz.student.umm.ac.id/2010/08/26/islam-wetu-telu/ diakses pada 18 Mei 2012
Khadziq. 2009. Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat. Yogyakarta: Teras
Muhaimin dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Kencana
Praharsini, Dining Martha. 2009. Materi Pokok Wetu Telu dalam Sudut Pandang Teologi Trias Politika Kajian di Kabupaten Lombok Utara, makalah untuk LKTI Kebudayaan tingkat SMA. Lombok: SMA 1 Tanjung,
Rasmianto. 2009.  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2. Malang: UIN Malang
http://wikipedia.islam-sasak.com diakses pada 14 Mei 2012 pukul 08.00 WIB




[1] Khadziq, Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), 42-43.
[2] Rasmianto,  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009), hal. 138
[3] http://wikipedia.islam-sasak.com diakses pada 14 Mei 2012 pukul 08.00 WIB
[4] Rasmianto. Op, Cit. hal. 141-142
[5] Edelwish, Islam Wetu Telu
[6] Bustanudin Agus, Agama dalam Kehidupan Manusia, Pengantar Antropologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal: 61.
[7] Ibid, hal: 61.
[8] Ibid, hal: 80.
[9] Ibid, hal: 95.
[10] Ibid, hal: 106.
[11] Ibid, hal:  103.
[13] Rasmianto, el-Harakah, Vol.11, No. 2, Tahun 2009.
[14] Rasmianto, el-Harakah, Vol.11, No. 2, Tahun 2009.
[15] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[16] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[17] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[18] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-bayan-lombok-utara/.
[19] http://sosbud.kompasiana.com/2012/02/11/filosofi-ajaran-wetu-telu-di-b/ayan-lombok-utara/.
[20] Muhaimin dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam, (Jakarta: Kencana, 2005), 53-54.
[21] Dining Martha Praharsini, Materi Pokok Wetu Telu dalam Sudut Pandang Teologi Trias Politika Kajian di Kabupaten Lombok Utara, makalah untuk LKTI Kebudayaan tingkat SMA, (Lombok: SMA 1 Tanjung, 2009), hal. 5-14
[22] Ibid, hal. 18
[23]Khadziq, Islam dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), 94-95.
[24] Erni Budiwanti, Islam Sasak. Wetu telu versus waktu lima.(Yogyakarta: LKiS, 2000), 290.
[25] Ibid, hal: 291.
[26] Ibid, hal: 297.
[27] Ibid, hal: 311.
[28] Ibid, hal: 315.
[29] Ibid, hal: 314.
[30] Ibid, hal: 315.
[31] Ibid, hal: 316.
[32] Ibid, hal: 317.
[33]Khadziq, Islam Dan Budaya Lokal, Belajar Memahami Realitas Agama Dalam Masyarakat, (Yogyakarta: Teras, 2009), 97.
[34] Erni Budiwanti, op. cit., hal: 299.
[35] Ibid, hal: 330.
[36] http://id.wikipedia.org/wiki/Sembahyang_Waktu_Telu.
[40] Rasmianto,  Interrelasi Kiai, Penghulu dan Pemangku Adat dalam Tradisi Islam Wetu Telu di Lombok. Jurnal el-Harakah, Vol. 11, No. 2, (Malang: UIN Malang, 2009), hal. 146

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar